UMKM Bangkit, Ekonomi Desa Menguat: Agenda Kemitraan untuk Rapimnas KADIN
Oleh Teguh Anantawikrama
KEPRI.DISWAY.ID - Kebangkitan UMKM harus hadir dalam bentuk yang dapat dirasakan pelaku usaha: pesanan yang bertambah, pembayaran yang lancar, produktivitas yang meningkat, dan kesempatan memasuki pasar yang lebih luas. Inilah semangat yang ingin saya dorong melalui Gerakan Nasional UMKM Bangkit.
Rapimnas KADIN Indonesia dapat menjadi momentum untuk menerjemahkan semangat tersebut menjadi komitmen bersama dunia usaha, dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai salah satu sarana untuk memperkuat ekonomi masyarakat.
Menurut saya, hubungan ketiganya perlu dibangun secara jelas. Gerakan Nasional UMKM Bangkit dapat mengorganisasi kebutuhan dan mendampingi kesiapan pelaku usaha. KADIN dapat menghimpun perusahaan pembeli, asosiasi sektoral, perbankan, serta penyedia teknologi dan logistik.
Koperasi Merah Putih dapat menjadi simpul usaha di tingkat desa dan kelurahan yang mempertemukan produksi lokal dengan permintaan pasar. Pembagian peran tersebut perlu disepakati dan diuji melalui kerja nyata di lapangan.
BACA JUGA:Kadin Lampung Desak Perda Ekonomi Syariah, Pangsa Pasar Bank Syariah Jadi Sorotan
Sebagai penggagas Gerakan Nasional UMKM Bangkit, saya memandang akses pasar sebagai titik berangkat pemberdayaan. Ketika permintaan dapat diidentifikasi, pendampingan memiliki arah yang lebih jelas: produk apa yang dibutuhkan, mutu seperti apa yang harus dipenuhi, berapa volume yang dapat diserap, dan kapan pembayaran diterima. Pelatihan, pembiayaan, serta digitalisasi kemudian disusun untuk membantu UMKM memenuhi kebutuhan itu.
Karena itu, agenda UMKM dalam Rapimnas perlu menghasilkan komitmen pembelian dan pengembangan pemasok. Perusahaan anggota KADIN dapat diajak memetakan kebutuhan yang layak dipenuhi UMKM, mulai dari pangan, produk olahan, perlengkapan usaha, hingga jasa pendukung.
Kemitraan perlu dibangun berdasarkan kemampuan produksi dan standar pembeli, dengan ruang pendampingan bagi usaha kecil untuk meningkatkan kualitas secara bertahap.
Koperasi Merah Putih berpotensi membantu mengatasi keterbatasan skala usaha. Produsen kecil dapat menghimpun pasokan, menggunakan layanan penyimpanan dan pengiriman bersama, serta memenuhi pesanan yang lebih besar. Potensi itu akan terwujud apabila koperasi memiliki pengelola yang kompeten, pembukuan yang tertib, dan hubungan usaha yang dipercaya anggota maupun pembeli.
BACA JUGA:BBM Langka Berlarut, Kadin Lampung: Ekonomi Tak Bisa Terus Menunggu
Saya ingin melihat koperasi mengembangkan perdagangan dua arah. Kebutuhan masyarakat dan bahan baku usaha dapat masuk ke desa dengan lebih efisien, sementara hasil pertanian, pangan olahan, kerajinan, dan produk lokal bergerak menuju pasar yang lebih luas. Dengan demikian, pertumbuhan perdagangan ikut memperbesar kesempatan produksi dan pendapatan di desa.
Gerakan Nasional UMKM Bangkit dapat mengambil peran dalam menyiapkan pemasok untuk memasuki hubungan usaha tersebut. Pendampingan perlu mencakup penghitungan biaya produksi, pemenuhan perizinan yang relevan, pengemasan, pengendalian mutu, dan ketepatan pengiriman.
Pendamping juga perlu membantu pelaku usaha memahami kontrak, ketentuan retur, serta risiko pembayaran. Keberhasilan harus terlihat pada kemampuan memenuhi pesanan dan memperoleh pembelian berulang.
Sumber: