Kolaborasi ABDSI–ILO di Bali: Strategi Baru Dongkrak Daya Saing UMKM Indonesia hingga 2030

Kolaborasi ABDSI–ILO di Bali: Strategi Baru Dongkrak Daya Saing UMKM Indonesia hingga 2030

KEPRI.DISWAY.ID - Di tengah derasnya arus digitalisasi dan persaingan global, nasib jutaan pelaku UMKM Indonesia kembali menjadi sorotan.

Bukan tanpa alasan. Meski menjadi tulang punggung ekonomi nasional, banyak UMKM masih tertatih menghadapi tantangan besar—mulai dari akses pasar yang terbatas, kesulitan pembiayaan, hingga ketertinggalan teknologi.

Namun, harapan baru mulai muncul.

Kolaborasi antara Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI) dan International Labour Organization (ILO) menjadi angin segar bagi masa depan UMKM Tanah Air.

Bertempat di Bali, puluhan pemangku kepentingan berkumpul dalam sebuah forum strategis selama dua hari untuk merancang masa depan UMKM hingga tahun 2030.

Workshop bertajuk “ABDSI Strategic Planning Workshop – Developing the Roadmap Forward” ini bukan sekadar diskusi biasa. Di dalamnya, lahir gagasan besar: menyusun peta jalan transformasi layanan pengembangan bisnis (BDS) yang lebih kuat, terarah, dan berdampak nyata.

Sebanyak 45 peserta dari berbagai latar belakang—pemerintah, akademisi, lembaga keuangan, hingga praktisi—bersatu dalam satu visi: menyelamatkan sekaligus mengangkat UMKM naik kelas.

“Di tengah perubahan pasar yang begitu cepat, UMKM tidak bisa berjalan sendiri,” ungkap Djauhari Sitorus dari ILO.

Ia menekankan bahwa tanpa ekosistem yang solid, mimpi menjadikan UMKM sebagai motor pertumbuhan berkelanjutan akan sulit terwujud.

Sementara itu, Ketua Umum ABDSI, Cahyadi Joko Sukmono, menegaskan bahwa roadmap ini adalah komitmen bersama.

Bukan sekadar dokumen, tetapi langkah nyata untuk menjadikan ABDSI sebagai mitra terpercaya bagi UMKM di seluruh Indonesia.

Dari sisi pemerintah, Fitri Rinaldi mengingatkan bahwa persoalan mendasar UMKM masih belum terselesaikan.

“Mayoritas UMKM kita masih berskala mikro. Tanpa pembenahan data dan ekosistem, program bantuan tidak akan tepat sasaran,” ujarnya.

Masalahnya pun kompleks—dari akses pasar yang sempit, minimnya kemitraan, hingga keterbatasan teknologi dan standar produk.

Sumber: