Artinya apa?
Artinya, dunia sedang kehilangan pusat stabilitas lamanya.
Dan di tengah kekosongan itu, negara-negara middle power seperti Indonesia memiliki kesempatan historis untuk mengambil peran yang lebih besar.
Indonesia bukan lagi sekadar negara berkembang biasa.
Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, bonus demografi, kekayaan sumber daya alam strategis, posisi geopolitik di jalur perdagangan dunia, serta kekuatan pasar domestik yang besar, Indonesia memiliki semua syarat menjadi pusat pertumbuhan baru dunia.
Kita memiliki nikel, tembaga, energi hijau, biodiversitas, kekuatan pangan tropis, hingga ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Tetapi kebangkitan nasional tidak cukup hanya dengan sumber daya.
Kebangkitan membutuhkan arah.
Selama terlalu lama, banyak negara berkembang didorong untuk mengikuti pola pembangunan yang bergantung pada pusat-pusat kekuatan global.
Akibatnya, banyak negara hanya menjadi eksportir bahan mentah, pasar konsumsi, dan penyedia tenaga kerja murah.
Indonesia tidak boleh lagi berjalan di jalur itu.
Kita harus membangun kekuatan sendiri.
Hilirisasi adalah awalnya.
Tetapi nilai tambah nasional harus melampaui sekadar smelter dan industrialisasi dasar.
Indonesia harus mulai membangun penguasaan teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi hijau, pangan masa depan, industri kesehatan, hingga ekosistem digital nasional.
Kita tidak boleh hanya menjadi penonton revolusi teknologi dunia.